MB UNS di Coaching Clinic MB Gema Persada Siliwangi

Pada 29 April 2018, Marching Band Gema Persada Siliwangi telah melaksanakan Coaching Clinic 2018 yang bertemakan “Meningkatkan Kualitas Melalui Wawasan dan Kreatifitas” bagi para pemain Marching Band Universitas Siliwangi dan juga mengundang pemateri yaitu Agung Faris Anugrah (Ketua Marching Band Sebelas Maret 2017-2018) dan  Doni Saputra (Pelatih Battery Percussion Marching Band BPS UNSOED)

 

 

Terimakasih kepada Marching Band  Gema Persada Siliwangi yang telah memberikan amanah dan kepercayaan kepada Saudara Agung Faris Anugrah untuk mengisi acara tersebut.

 

Semoga informasi yang diperoleh dapat bermanfaat dalam berorganisasi, kuliah dan di kehidupan sehari-hari

MB UNS di KUNTO AJI LIVE IN CONCERT “MERCUSUAR”

Grand Ballroom The Sunan Hotel, 23 Maret 2018, Marching Band Sebelas Maret menjadi salah satu bintang tamu di acara KUNTO AJI LIVE IN CONCERT “MERCUSUAR” yang diadakan di Grand Ballroom The Sunan Hotel. MB UNS dipercaya untuk membuka acara bersama dengan Blessing Band dan Musro Bartender Juggling.

 

 

Acara dimulai pukul tujuh malam. MB UNS menampilkan dua lagu dari paket pagelaran “SOLO: The City Of Culture” dan lagu Congratulations. MB UNS bermain sekitar 10 dan menaikkan antusias ruangan yang diisi sekitar 300 penggemar. Setelah MB UNS selesai bermain, Kunto Aji pun naik ke atas panggung.

 

 

Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami, semoga kami dapat lebih membanggakan almamater UNS tercinta. Terima kasih pula untuk semua anggota dan player yang sudah berkonstibusi dalam acara ini.

Do the Best, Be the Best, God Takes the Rest. UNS Jaya!!!

30th NEVER ENDING STORY

Student Center UNS, 17 Maret 2018, Marching Band Sebelas Maret telah menyelenggarakan perayaan 30 tahun berdirinya MB UNS. Pada tahun ini acara HUT MB UNS mengambil tema 30th Never Ending Story, yang merupakan ungkapan jika di umur ke 30 tahun ini bukan akhir dari perjalanan MB UNS. Sudah 30 tahun MB UNS berjuang membawa nama baik UNS dan mengikat tali kekeluargaan bersama lebih dari 30 angkatan, dan masih akan ada cerita-cerita perjuangan baru MB UNS ke depannya.

 

 

Acara dimulai pukul 19.30 tepat. Acara kali ini dihadiri oleh Pak Drs. Rohman Agus Pratomo selaku Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni, Purnabakti dan Anggota MB UNS, dan perwakilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa UNS dan Keluarga Marching Band Solo Raya. Acara berjalan dengan lancar dan meriah, dimulai dari sambutan-sambutan, kemudian pemotongan tumpeng, dimeriahkan oleh penampilan dari tiap section dan pembagian doorprize, dan ditutup dengan foto bersama seluruh undangan.

 

 

Terima kasih untuk semua anggota, player, dan panitia yang sudah berkonstibusi dalam acara ini.

Do the Best, Be the Best, God Takes the Rest. UNS Jaya!!!

KIRAB BUDAYA DJARUM SENSASI 10

Benteng Vastenburg Solo, 10 Maret 2018, Marching Band Sebelas Maret Surakarta menjadi bagian dari rangkaian penutup acara Festival Heppiii Sensasi 10. Puncak acara penutup ini dimulai dengan kirab budaya yang berparade dari Benteng Vastenburg menuju Wedangan Cendhana Wangi Pasar Gede. Marching Band Sebelas Maret dipercaya untuk mengiringi jalannya parade.

 

 

Acara dimulai pukul empat sore. Dalam waktu tiga puluh menit saja rombongan parade telah sampai di area Pasar Gede. Kemudian setelah ishoma, pukul tujuh malam rombongan kirab budaya kembali berparade ke arah Benteng Vastenburg untuk puncak acara penutup yang diisi oleh penampilan musik dari Nufi Wardhana, Tora Sudiro, dan masih banyak lagi.

 

 

Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami, semoga kami dapat lebih membanggakan almamater UNS tercinta. Terima kasih pula untuk semua anggota dan player yang sudah berkonstibusi dalam acara ini.

Do the Best, Be the Best, God Takes the Rest. UNS Jaya!!!

TEAMWORK: KAMU ITU PENTING!

Marching Band merupakan sebuah tim yang terdiri dari banyak individual untuk menampilkan musik dan visual. Dalam marching band, ada sebuah section yang memiliki anggota terbanyak, yaitu Brass. Semakin banyak orang, maka semakin sulit untuk menyatukan pikiran, bukan? Bagaimana dengan brass, yang terbagi menjadi beberapa sub-section yaitu high, middle, dan low brass? Pada artikel kali ini,  Humas MB UNS mewawancarai tiga narasumber terpercaya secara eksklusif, sebut saja Bapak, DC, dan PywareMan.

Pertanyaan pertama adalah mengapa setiap orang dibutuhkan dalam marching band? Bukankah anggota marching band sangat banyak, sehingga jika satu orang tidak ada maka tidak masalah?

Bapak berkata, jika ditanya apakah satu orang tidak hadir tidak apa-apa maka bisa dibilang tidak apa-apa, namun yang menjadi apa-apa adalah ketika kita mempertimbangkan efek dari ketidakhadiran salah satu komponen dalam latihan ternyata sangat berpengaruh besar terhadap banyak tujuan yang ingin dicapai.

DC menjelaskan, kalau marching band tidak hanya tentang musik dan display, tapi juga tentang pendidikan, seperti bagaimana belajar bertanggungjawab dan bekerjasama. Lalu, bagaimana caranya tim tersebut dapat terbentuk jika ada seseorang yang tidak menempati posisinya. Misalnya dalam tim olahraga seperti sepak bola, voli, atau basket, yang dimainkan dengan jumlah tertentu. Jika ada satu orang yang hilang dan tidak menempati posisinya, tentunya akan menambah beban untuk anggota tim yang lain.

Kemudian PywareMan menyampaikan, dalam marching band anggota dituntut untuk satu komando dan satu suara. Cara berjalan diatur, semua diatur. Sehingga jika salah satu orang tidak ada, maka akan berpengaruh secara mental terhadap anggota yang lain.

Lalu bagaimana dalam bidang teknis? Pertanyaan ini mungkin lebih fokus terhadap section brass, karena brass adalah section dengan anggota terbanyak.

Menurut Bapak, secara teknik semua komponen dapat dipastikan mencapai target materi dengan latihan yang sesuai. Namun karena marching band adalah satu kesatuan, maka semua bentuk kegiatan yg tercipta didalamnya sudah pasti dibuat untuk dicapai dan dijalani bersama. Jadi kalau satu orang tidak datang mungkin tidak apa-apa, tapi untuk latihan selanjutnya semua orang yang telah hadir sebelumnya akan merelakan latihan untuk mengulang materi demi orang yang tidak hadir dalam latihan. Target akan mundur, tidak tercapai sesuai waktu yang diharapkan karena harus mengulang-ulang materi yang sama.

Lalu menurut PywareMan dari segi teknis lapangan, satu manusia itu berpengaruh di lapangan, terlebih dalam hal visual. Visual di lapangan membutuhkan banyak orang. Jikalau musik ada hal yang disebut lip-sync, visual tidak bisa di-lip-sync-kan. Marching band membutuhkan kuantitas. Semakin banyak kuantitas semakin baik. Misalnya saja komposisi brass 60 orang dengan brass 40 orang akan terasa berbeda dari segi musikalitasnya juga. Namun secara kualitas tidak bisa ditentukan berdasarkan kuantitas. Yang jelas, tiap-tiap orang menentukan kualitas satu section tersebut.

Kemudian menurut DC, setiap arranger atau musisi memiliki aturan standar untuk jumlah orang dalam komposisinya. Misalnya saja trumpet di set untuk dimainkan oleh 18 orang dengan pembagian 6-6-6. Ketika satu orang tidak ada, maka komposisinya akan berubah menjadi 6-6-5 dan  keseimbangannya akan berantakan. Beda halnya jika memang sudah dilatih untuk komposisi 6-6-5, mungkin keseimbangannya bisa dilatih dari awal dengan diakali untuk sub-section yang hanya ada lima orang agar menaikkan volume suaranya.

Adakah kata-kata yang ingin disampaikan kepada anggota tim yang sedang berproses?

PywareMan menyampaikan, di Marching Band Sebelas Maret ada slogan “esprit de corps” sebagai pemersatu. Slogan yang artinya rasa bangga, semangat juang, dan loyalitas terhadap tim harus diterapkan sebagai jati diri bersama.

Bapak berkata, kehadiran seseorang bisa menjadi tidak berarti apa-apa atau bahkan bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi apa-apa. Ketidakhadiran yang tidak jelas terutama akan menularkan virus yang sama. Mengakibatkan orang yang sedang dalam proses latihan juga terpengaruh. Mungkin akan ada beberapa pemikiran yang berbeda dari setiap orang yang hadir dalam proses latihan. Bisa jadi orang tersebut berpikir, ‘enak ya gak latihan, disini yang latihan capek capek eh dianya enak enakan main.’ Adapula mungkin yg berpikir positif. Namun pemikiran tersebut tidak akan tercipta jika ketidakhadiran seseorang jelas keterangannya. Tidak menimbulkan asumsi-asumsi.

Jadi kalau mau tidak hadir ya mungkin bisa berpikir dulu. Setelah berpikir, lalu pikirkan lagi. Setelah dipikirkan lantas pikirkan lagi. Pokoknya pikir aja terus. Apakah sudah pantas tidak hadir latihan dengan memikirkan banyak pertimbangan efek efek yang akan timbul kedepannya. Berkaca juga mungkin ya. Kalau ingin meninggalkan latihan, coba dipikir saat kita latihan apakah kita juga mau ditinggalkan.

“Udah cukup kenangan aja yang pergi, kamu jangan.”